“Setiap Jumat kita rajin datang ke masjid, tapi pernahkah kita bertanya: sudahkah kita benar-benar memanfaatkan momen setelah salam dengan sebaik-baiknya?”
Bagi kebanyakan kita, ritual Jumat terasa sudah tuntas begitu imam mengucapkan salam penutup. Shaf bergerak, sandal dicari, dan kaki pun melangkah menuju pintu masjid. Padahal, justru di saat itulah ada sebuah jendela waktu yang sempit namun penuh berkah, jika kita tahu cara mengisinya dengan benar.
Marilah kita selami sebuah amalan yang ditulis oleh salah satu ulama agung Islam, Imam al-Ghazali rahimahullah, dalam kitabnya yang masyhur, Bidayah al-Hidayah. Amalan ini terasa ringan di lisan, namun diyakini membawa perlindungan yang menyeluruh: dari Jumat ke Jumat, dari segala tipu daya setan.
Mengapa Waktu Setelah Salam Istimewa?
Salat Jumat bukan sekadar ritual mingguan. Salat Jumat adalah peristiwa rohani yang dikunjungi oleh para malaikat, dihadiri dalam keadaan suci, dan diakhiri dengan kekhusyukan hati yang, semoga, masih hangat membara. Imam al-Ghazali memahami betul bahwa momen tepat setelah salam adalah momentum spiritual yang sangat sayang jika disia-siakan.
Beliau menasihati para muridnya agar tidak segera bangkit dan membubarkan diri setelah salat selesai. Sebaliknya, manfaatkanlah sejenak, sebelum mulut kita terlibat dalam percakapan dunia, untuk membaca bacaan yang beliau tuliskan dalam kitab Bidayah al-Hidayah.
Apa yang Dianjurkan Imam al-Ghazali?
Dalam kitab Bidayah al-Hidayah halaman 82, Imam al-Ghazali rahimahullah menuliskan:
“Apabila engkau telah selesai salat dan salam, maka bacalah, sebelum engkau berbicara dengan siapapun:”
-
1Surah Al-Fatihah — dibaca 7 kali
Ibu dari segala surah; pembuka pintu rahmat dan hidayah Allah ﷻ. -
2Surah Al-Ikhlas — dibaca 7 kali
Penegasan tauhid yang nilainya setara dengan sepertiga Al-Qur’an. -
3Surah Al-Falaq — dibaca 7 kali
Perlindungan dari kejahatan makhluk, iri dengki, dan sihir. -
4Surah An-Nas — dibaca 7 kali
Perlindungan dari bisikan jahat jin dan manusia.
Faedah dan Janji dari Amalan Ini
Imam al-Ghazali rahimahullah kemudian menjelaskan janji besar yang menyertai amalan ringan ini:
“Yang demikian itu akan membuatmu mendapat perlindungan Allah dari Jumat ke Jumat, dan menjadi benteng bagimu dari segala tipu daya setan.”
Bayangkan, cukup dengan meluangkan waktu beberapa menit setelah salam, sebelum beranjak, sebelum sepatah kata pun terucap kepada siapapun, kita mendapat perlindungan ilahi yang berlaku selama satu pekan penuh. Tujuh hari ke depan, dalam perjalanan, dalam pekerjaan, dalam pergaulan, kita bergerak di bawah naungan yang kita minta sendiri dengan lisan dan hati.
Syarat Penting: “Sebelum Berbicara”
Ada detail kecil yang sering luput dari perhatian banyak orang. Imam al-Ghazali secara khusus menyebut kalimat “qabla an tatakallama”, sebelum engkau berbicara. Ini bukan sekadar anjuran biasa.
Ini adalah isyarat agar kita menjaga kesinambungan rohani dari salat langsung ke amalan tersebut, tanpa memotongnya dengan obrolan duniawi. Jaga keheningan hati, tutup ponsel sejenak, tundukkan kepala, dan mulailah membaca.
Setelah imam salam, seringkali kita langsung bertegur sapa, berkomentar tentang khutbah, atau membalas pesan di ponsel. Padahal, justru dalam jeda singkat itulah terdapat jendela emas yang Imam al-Ghazali ingin kita manfaatkan sebaik-baiknya. Bacalah empat surah tersebut dengan tartil dan penuh penghayatan, masing-masing tujuh kali.
Melengkapi dengan Doa dari Kitab Maraqil Ubudiyyah
Setelah menyelesaikan bacaan surah-surah tersebut, para ulama juga menganjurkan kita menutupnya dengan sebuah doa yang disebutkan dalam kitab Maraqil Ubudiyyah, sebuah doa permohonan kecukupan rezeki yang datang murni dari Allah, bukan dari ketergantungan kepada sesama makhluk:
يَا رَحِيمُ يَا وَدُودُ؛ أَغْنِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ،
وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ، وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.
“Ya Allah, wahai Yang Maha Kaya, Maha Terpuji, Maha Pencipta, Maha Mengembalikan, Maha Penyayang, Maha Pengasih, cukupkanlah aku dengan rezeki halal-Mu dari yang haram, dengan ketaatan-Mu dari kemaksiatan, dan dengan karunia-Mu dari ketergantungan kepada selain Engkau.”
Tentang keutamaan doa tersebut, dalam kitab Maraqil Ubudiyyah disebutkan:
“Barangsiapa yang istiqamah membaca doa ini, niscaya Allah akan mencukupinya dari ketergantungan kepada makhluk-Nya, dan ia akan dianugerahi rezeki dari arah yang tidak pernah ia sangka-sangka.”
Merangkai Amalan Menjadi Kebiasaan Mingguan
Kunci dari amalan ini bukan sekadar membacanya sekali dua kali, lalu terlupakan. Imam al-Ghazali merumuskannya sebagai bagian dari adab seorang Muslim yang terdidik jiwa dan rohaninya. Kata “dawam” (istiqamah) yang muncul dalam kitab Maraqil Ubudiyyah mengingatkan kita bahwa keberkahan sejati lahir dari konsistensi yang terjaga.
Mulailah dari Jumat ini. Setelah imam salam, jangan langsung bangkit. Luangkan waktu sekitar 5–7 menit saja. Baca Al-Fatihah tujuh kali, Al-Ikhlas tujuh kali, Al-Falaq tujuh kali, An-Nas tujuh kali. Lalu tutup dengan doa tersebut. Rasakan perbedaannya, bukan hanya dalam ketenangan saat meninggalkan masjid, tetapi insyaAllah dalam perjalanan hidup di pekan itu dan seterusnya.
Masjid Bukan Sekadar Tempat Singgah
Kita sering memperlakukan masjid seperti halte: datang, naik, turun, pergi. Padahal masjid, dan momentum salat di dalamnya, adalah stasiun pengisian rohani terbesar dalam hidup seorang Muslim. Imam al-Ghazali, dengan kepiawaian dan kepeduliannya terhadap kondisi batin umat, meninggalkan warisan amalan yang begitu praktis namun sarat makna mendalam.
Tidak butuh waktu lama. Tidak butuh hafalan panjang yang baru. Empat surah yang sudah kita hafal sejak kecil, dibaca dengan penuh penghayatan tujuh kali masing-masing, kemudian ditutup dengan satu doa yang indah, itulah bekal perlindungan kita untuk tujuh hari ke depan.
Semoga Allah memudahkan kita untuk mengistiqamahkan amalan tersebut, dan semoga setiap Jumat yang kita jalani benar-benar menjadi peristiwa rohani yang meninggalkan jejak nyata dan abadi dalam kehidupan kita.
اللَّهُمَّ آمِيْن · Allāhumma Āmīn
— Imam al-Ghazali, Bidayah al-Hidayah, halaman 82
— Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Maraqil Ubudiyyah